Penulis: Renno Baihaqi
Irsyad Arif, Juli Imanuel, Angga Ferdian, Shofi Fajriani, Herli Nirwana, dan Fajar Ramadhan Berkontribusi dalam Artikel ini

Pagi yang jatuh di bekas Pasar Bogor kini terasa serupa sembilu; tajam, dingin, dan menyayat palung ingatan hingga ke ceruk yang paling dalam. Cahaya matahari tak lagi membelai riuh rendah tawar-menawar yang hangat, melainkan hanya menyinari permukaan dinding dan lantai yang kini terlalu rapi, terlalu bisu, dan terlalu mati.
Tidak ada lagi simfoni suara yang saling berbenturan—teriakan harga yang bersahutan, senda gurau para pedagang yang memecah fajar, hingga langkah kaki tergesa pembeli yang dahulu membawa denyut kehidupan ke setiap gang sempit yang pengap namun dirindukan. Udara di Pasar Bogor terasa bersih, namun sekaligus hampa, seolah-olah penguasa tidak hanya menyapu debu dan kotoran, melainkan juga mencabut nyawa dari sebuah tempat yang dulu menjadi detak jantung ekonomi rakyat kecil yang tak henti berdenyut selama puluhan warsa.
Selama puluhan musim, Pasar Bogor bukan sekadar ruang transaksi formal, melainkan rahim bagi mimpi-mimpi sederhana yang ditenun dengan benang-benang keringat dan ketabahan. Di sanalah waktu tidak pernah mengenal jeda; malam hanyalah transisi warna dari jingga ke ungu, sementara manusia datang dan pergi tanpa henti, membawa harapan dalam kantong-kantong belanja yang lusuh.
Babas duduk termangu di balik lapaknya di Pasar Gembrong Sukasari, sebuah dermaga pelarian yang asing, gersang, dan dipaksakan oleh keadaan. Punggungnya yang kian membungkuk seolah memikul seluruh beban langit yang runtuh menimpa pundaknya, sementara tangannya bergerak lambat merapikan barang-barang yang sejak fajar menyingsing tak bergeser sedikit pun posisinya. Ia tidak benar-benar sibuk, namun jemarinya enggan diam, seolah gerakan mekanis itu adalah satu-satunya cara untuk meyakinkan diri bahwa ia masih hidup.

Babas Pedagang Ayam Potong yang Terdampak dari Relokasi Pasar Bogor , (17/04/2026)/ Fotografer/Juli Imanuel
Di gedung baru ini, keramaian adalah dongeng masa lalu yang sulit dipercaya. Baginya, kepindahan ini bukan sekadar berpindah alamat, melainkan sebuah pemutusan saraf kehidupan secara paksa; duka yang tak terperikan karena hidupnya kini terasa disekap oleh sepi yang mencekik leher.
Rantai Pendidikan yang Terputus dan Kursi Kosong di Balik Lapak
Di lorong yang sama di Pasar Gembrong Sukasari, tempat di mana waktu seolah berhenti berputar, Giohwa berdiri tegak meski suaranya mulai parau oleh beban kenyataan yang kian menghimpit ulu hati. Sejak 1984, ia telah memahat masa depan anak-anaknya dari setiap peluh yang menetes di lantai Pasar Bogor. Dari balik meja dagangannya yang sederhana dulu, ia berhasil mengantarkan anak-anaknya meniti tangga Universitas hingga menggenggam gelar sarjana di Fakultas Hukum dari Universitas swasta ternama. Prestasi itu adalah kebanggaan tertingginya, sebuah bukti bahwa dari pasar yang dianggap kumuh bisa lahir masa depan yang cerah. Namun, relokasi ini menjadi palu godam yang menghancurkan tradisi keberhasilan keluarga tersebut.
Anak bungsunya kini terpaksa mengubur mimpi di dalam laci yang terkunci rapat; keinginan untuk melanjutkan kuliah sirna seketika karena seluruh tabungan keluarga habis tertelan untuk melunasi biaya sewa kios yang harganya mencekik di tempat baru ini. “Harusnya dia kuliah,” bisiknya lirih, sebuah kalimat pendek yang menyimpan elegi mendalam atas hilangnya hak yang dirampas oleh ketukan palu kebijakan.
Giohwa kini harus memulai segalanya dari nol, di sebuah tempat di mana pelanggan lamanya telah raib ditelan bumi, meninggalkan ia dengan tumpukan barang yang enggan berpindah tangan. Penurunan omzet yang ia dapatkan berbanding terbalik saat di Pasar Bogor, “Walaupun sepi di Pasar Bogor tapi masih ada pemasukan, kalau di Pasar Gembrong Sukasari sudah hampir seminggu belum ada pendapatan,” tuturnya.
Duka ekonomi yang dirasakan Giohwa mengalir dalam nadi yang sama dengan nestapa Babas. Babas menatap angka-angka penurunan pendapatan yang mencapai delapan puluh persen, baginya berarti hilangnya daya untuk sekadar menyambung napas esok hari. Fasilitas di tempat baru ini terasa mati; akses angkutan umum yang tidak memadai membuat para langganan lama enggan berkunjung.
Mereka kini terjebak dalam solusi dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor yang seperti lingkaran setan gali lubang tutup lubang, “Karena tiga bulan awal gratis tidak bayar kios, itu masih tidak cukup untuk memulai dari nol. Akhirnya banyak pedagang yang kabur karena tidak sanggup bayar” ujarnya. Kehangatan interaksi yang dulu menjadi penyemangat kini terasa tawar seperti air hujan di atas semen yang dingin; di sini, tetangga kios lebih banyak saling melempar pandang dalam kesunyian yang seragam.
“Kami orang kecil, tidak bisa melawan orang besar,”
ujar Giohwa,
“Mengalah” Sebagai Satu-satunya Jalan di Bawah Bayang-bayang Beton

Sementara itu, beberapa kilometer dari sana, di reruntuhan Pasar Bogor yang kini telah menjadi hamparan puing dan debu yang beterbangan, Njah masih bertahan dalam sunyi yang lebih tajam. Ia tak ikut dalam arus relokasi ke Pasar Sukasari, bukan karena tak ingin, melainkan karena modalnya tak akan pernah cukup untuk menyentuh lantai keramik gedung baru itu. Ia memilih menggelar meja kayu di pinggir jalan, beralaskan aspal yang retak dengan restu para tetangga dan pemilik rumah yang telah mengenalnya selama belasan tahun.
Tanpa kios permanen, dengan izin yang sewaktu-waktu bisa dicabut, ia hanya menjajakan kopi dan mi instan demi menunda rasa lapar. Baginya, relokasi adalah sebuah nubuat buruk yang membuat ruang geraknya kian sempit dan masa depannya kian abu-abu, seiring dengan rencana pembangunan hotel mewah yang akan berdiri di atas tanah tempatnya mencari makan.
Selama enam belas tahun berdiri di atas kaki sendiri tanpa sandaran seorang suami, Njah terbiasa melawan badai hidup, namun kali ini ia merasa benar-benar dibuang ke tepi oleh kota yang ingin tampil bersolek dan “organik” di mata dunia. “Yang penting bisa makan,” ucapnya, sebuah falsafah hidup yang teramat sederhana namun getir di tengah modal dagang yang sering kali tak kembali ke pundi-pundi.
Ia mengisahkan bagaimana arus rezeki kian surut semenjak pembongkaran itu dimulai; modal lima ratus ribu rupiah seringkali hanya kembali tiga ratus ribu, memaksa ia untuk memutar otak agar adik dan anaknya tetap bisa makan. Di sekelilingnya, pasar yang dulu merupakan pusat semesta bagi orang-orang kecil kini telah rata dengan tanah, menyisakan kesedihan bagi mereka yang hanya bisa “kucing-kucingan” dengan petugas demi sekadar bisa berjualan di atas trotoar.
Kesedihan kolektif ini mencapai puncaknya pada sebuah kalimat yang jatuh dari bibir Babas dengan nada yang begitu pasrah di Pasar Gembrong Sukasari. Saat ditanya mengenai harapan atau pesan yang ingin ia titipkan untuk para penguasa kota yang duduk di balik meja-meja kayu jati yang nyaman, ia tidak meminta keajaiban. Ia hanya berucap lirih dengan tatapan yang kosong menusuk langit-langit gedung, “Gak ada, ngalah saja sama Pemkot Bogor.”
Kalimat itu meluncur tanpa amarah yang meledak-ledak, tanpa perlawanan yang heroik, hanya sebuah kepasrahan total dari jiwa yang telah terlalu lelah dipukul oleh kenyataan yang tidak berpihak padanya. Bagi Babas, mengalah bukan lagi sebuah pilihan yang diambil dengan sadar, melainkan sebuah nasib mutlak yang harus ia telan bulat-bulat di hadapan tembok kekuasaan yang tak punya telinga untuk mendengar rintihan rakyatnya.
Pernyataan “ngalah saja” itu menjadi noktah hitam bagi sejarah panjang hidupnya di pasar. Di dalam kalimat singkat itu, terkubur puluhan tahun memori, kehangatan pelanggan, dan harapan-harapan kecil yang kini menguap bersama debu penggusuran.
Babas, Giohwa, dan Njah adalah rupa-rupa luka dari mereka yang dikorbankan demi narasi kemajuan dan estetika kota yang kering. Kini, mereka tetap setia duduk menunggu di tengah ruang-ruang yang hampa, merindukan masa lalu yang telah dicuri oleh ambisi, sembari memandangi Kota Bogor yang terus bersolek di atas duka yang mereka pikul sendirian tanpa suara.


