Dari Kampus untuk Industri: The Sounds Project Kembali Menyapa Mahasiswa Lewat Campus Talk di Universitas Pakuan

whatsapp image 2026 06 06 at 15.03.28

Penulis: Shofi Fajriani

Herli Nirwana berkontribusi dalam pembuatan artikel ini.

Suasana Graha Pakuan Siliwangi, Universitas Pakuan, Kamis (21/5/2026), terasa berbeda. Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMNI) Universitas Pakuan berkolaborasi dengan The Sounds Project (TSP) menghadirkan sebuah diskusi bertajuk Building Dreams Through Music Industry dalam program Campus Talk. Acara ini menghadirkan langsung Gerhana Banyubiru yang akrab disapa Ghana, Founder & CEO TSP, sebagai narasumber utama.

Bukan sekadar seminar musik biasa, forum ini menjadi ruang berbagi pengalaman tentang bagaimana sebuah komunitas kecil di kampus mampu tumbuh menjadi salah satu festival musik terbesar di Indonesia. Dalam sesi wawancara, Ghana menekankan bahwa kampus merupakan akar dari perjalanan panjang TSP.

“Kampus itu urgensinya penting banget, karena dulu kita juga lahir dari acara kampus,” ungkapnya. Ia menjelaskan bahwa sebelum menjadi festival berskala nasional, TSP berawal dari komunitas musik bernama MG (Musik Gunadarma), sebuah komunitas independen yang dibangun secara organik oleh mahasiswa.

Berawal dari panggung-panggung kecil akustik di lingkungan kampus, komunitas tersebut perlahan berkembang menjadi ruang kolektif kreatif. Ruang ini tidak hanya berisi band, tetapi juga orang-orang di balik layar industri musik. Dari sana, Ghana mulai memahami bahwa industri musik bukan hanya tentang menjadi musisi di atas panggung.

Menurutnya, banyak mahasiswa yang masih memandang industri musik secara sempit. Padahal, di balik sebuah konser besar terdapat berbagai profesi yang saling menopang, mulai dari promotor, sound engineer (penata audio), manajer artis, media musik, hingga tim kreatif dan produksi.

“Industri musik itu 360 derajat. Bukan cuma soal jadi anak band,” jelasnya di hadapan peserta seminar.

Ia juga menyoroti pentingnya regenerasi dalam industri kreatif, khususnya pada sektor belakang layar. Ghana mengungkapkan, TSP kini lebih banyak membuka ruang untuk pengembangan talenta melalui program volunteer, internship, hingga komunitas TSP Squad. Baginya, keberhasilan sebuah festival besar tidak mungkin tercipta tanpa tim yang kuat di balik panggung.

Menariknya, perjalanan TSP tidak dibangun dengan modal besar sejak awal. Ghana menceritakan bahwa event pertama mereka hanya menargetkan sekitar dua ribu penonton. Namun setiap tahun, angka tersebut terus tumbuh hingga akhirnya mampu menghadirkan puluhan ribu audiens dalam satu festival.

“Progres itu penting. Dari dua ribu, empat ribu, enam ribu, sampai akhirnya puluhan ribu,” ujarnya.

Dalam diskusi tersebut, Ghana juga membagikan pandangannya mengenai pentingnya mahasiswa untuk terjun langsung ke dunia industri sejak dini. Menurutnya, kampus adalah tempat terbaik untuk mencoba, gagal, dan membangun relasi.

Ia bahkan mengungkapkan bahwa TSP tengah merancang kemungkinan program dukungan untuk event-event kampus sebagai bentuk kontribusi terhadap ekosistem kreatif mahasiswa. Hal itu lahir dari kesadaran bahwa banyak komunitas kampus memiliki ide besar, tetapi sering terbentur persoalan pendanaan dan akses industri.

Kolaborasi antara HIMNI dan TSP sendiri tidak hadir tanpa alasan. Dalam wawancara bersama pihak HIMNI, Nadya selaku perwakilan himpunan menjelaskan bahwa kerja sama ini dilatarbelakangi oleh pengalaman dan pemahaman mendalam yang dimiliki The Sounds Project di bidang industri kreatif dan komunikasi.

“HIMNI melihat TSP sebagai pihak yang memiliki pengalaman, relasi, dan insight yang relevan dengan dunia industri kreatif. Kolaborasi ini menjadi kesempatan untuk menghadirkan kegiatan yang lebih menarik, informatif, dan bermanfaat bagi mahasiswa,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa acara ini memberikan banyak manfaat bagi organisasi maupun peserta, mulai dari bertambahnya relasi dan networking, pengalaman menjalankan kolaborasi eksternal, hingga meningkatnya exposure HIMNI di lingkungan mahasiswa. Selain itu, HIMNI berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi wadah pembelajaran sekaligus pengembangan diri bagi mahasiswa komunikasi agar lebih siap menghadapi dunia industri kreatif yang terus berkembang.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang acara berlangsung. Tidak sedikit mahasiswa yang aktif bertanya mengenai peluang karier, perkembangan industri festival, hingga strategi membangun event musik independen.

Salah satu peserta, Zaki, mengaku tertarik mengikuti acara tersebut karena ingin memahami proses di balik layar sebuah event besar seperti The Sounds Project.

“Selama ini orang cuma melihat hasil akhirnya. Gue penasaran gimana proses sebuah event itu bisa berjalan dan siapa aja yang bekerja di belakang layar,” ujarnya. Ia juga menilai bahwa materi yang disampaikan membuka pandangannya mengenai pentingnya memulai dari event kecil sebelum membangun acara berskala besar. “Dari acara ini gue jadi tahu kalau bikin event besar itu harus dimulai dari yang kecil dulu, dan ternyata tidak semua event berjalan lancar. Itu jadi motivasi buat gue untuk mulai mencoba,” tambahnya.

Hal serupa juga disampaikan peserta lain, Fahru Rozi, yang melihat acara ini sebagai kesempatan untuk belajar membangun relasi sekaligus memahami proses perkembangan sebuah festival musik dari nol.

“Gue jadi dapat insight tentang gimana membangun event festival dan relasi dalam industri kreatif. Harapannya, ilmu dari acara ini bisa jadi bekal untuk berkembang ke depannya,” katanya. Fahru juga mengungkapkan bahwa ketertarikannya terhadap dunia event muncul dari pengalaman sebelumnya saat terlibat sebagai volunteer di beberapa kegiatan kampus. Pengalaman tersebut membuatnya ingin lebih memahami dunia industri event secara profesional.

Melalui Campus Talk ini, HIMNI dan The Sounds Project seakan ingin menunjukkan bahwa mimpi besar dalam industri kreatif dapat lahir dari ruang-ruang sederhana di kampus. Sebab bagi Gerhana Banyubiru, perjalanan besar selalu dimulai dari akar yang kecil: komunitas, keberanian mencoba, dan konsistensi untuk terus tumbuh.

Editor: Angga Ferdian

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top