Penulis: M. Fajar Ramadhan
Kuartet powerviolence asal Bogor, Slaves in Prison (SIP), resmi menggebrak ruang musik ekstrem dengan merilis Extended Play (EP) perdana. Rilis tepat pada peringatan May Day 2026. Kehadiran rilisan ini menjadi representasi eksistensi genre musik berkecepatan tinggi yang tetap terjaga di tengah dominasi tren musik lain di kota hujan.
Pemilihan nama “Slaves in Prison” yang berarti “Budak dalam Penjara” lahir dari proses acak tanpa pretensi filosofis yang muluk-muluk. Dari beberapa opsi nama yang tersedia, sebuah keputusan unik diambil penentuannya diserahkan kepada Broden, penjaga warung di belakang gedung Fakultas yang kerap mereka sambangi.

Band yang digawangi oleh personil dan memilih untuk menyamarkan namanya dalam balutan inisial: J pada gitar, C pada vokal, D pada drum, dan R pada bass. Terbentuk pada Oktober 2025, dipertemukan oleh budaya nongkrong di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Universitas Pakuan. Bagi mereka musik menjadi pelebur antar angkatan, tidak memandang segi kelas, ataupun umur.
Terbentuknya SIP dipengaruhi oleh beberapa band-band besar seperti, Charles Bronson, Spazz, hingga unit lokal Negatifa memberikan warna yang kental namun tetap memiliki karakter yang mentah dan jujur.
Secara aransemen, lagu-lagu dalam EP ini menyajikan komposisi yang sangat lugas. Dengan mengikuti guideline genre yang mereka usung : tempo cepat, aksentuasi berhenti yang mendadak, serta bagian pelan yang memberikan dinamika pada lagu. Proses kreatifnya mengalir sangat organik. Sentuhan riff gitar yang terdengar berat, pukulan drum yang keras, alunan bass yang dalam, serta vokal teriakan yang mentah.
Materi lagu lahir langsung dari keseruan sesi latihan bersama, dikombinasikan dengan draf mentah hasil ulikan gitar masing-masing personel.
“Sebenarnya EP cuma lima lagu, isinya sih cuma marah-marah, keresahan sebagai individu.” Tutur mereka.
Meskipun dibalut aransemen yang garang dan agresif, liriknya justru terasa intim. Karya ini menjadi ruang kontemplasi bagi para personel untuk menumpahkan keresahan personal dan dinamika hidup yang mereka hadapi sehari-hari. EP yang terdiri dari lima trek ini di antaranya State’s Dog, Semua Bisa Kena, Out Fart Will Die and Rot, Masuk Tepat di Rahang, dan Mau Kemana?, berhasil mengungkapkan perasaan muak yang dikemas dalam durasi singkat.

Lima trek yang mereka buat, kini bisa dinikmati melalui situs yaitu https://bandcamp.com. Bagi para personil, tidak memikirkan tentang dimana lagu mereka akan didengar, terkesan stoic tapi itulah ideologi mereka. “Yang penting bandcamp, sebenarnya kita juga nggak mikirin, wah kita biar didengar, kita bikin karena senang-senang saja.” Ucap dari para personil.
SIP berpegang pada ideologinya, tidak memerlukan durasi yang lama untuk berkarya, cukup sekitar 30—50 detik mengutarakan alunan resah mereka. Panggung yang tak perlu megah, cukup hasil dari kolektif maupun acara seperti grassroot.
Secara keseluruhan, EP perdana Slaves in Prison berhasil menghadirkan sebuah karya yang menarik melalui jalur kolektif. Dengan modal mandiri yang dikumpulkan dari penjualan atribut band, mereka mampu merampungkan proses rekaman tanpa ketergantungan pada pihak luar. Meskipun memilih untuk tidak mengelola kanal media sosial resmi, SIP membuktikan bahwa kejujuran dalam berkarya mampu menciptakan daya tarik tersendiri bagi para pendengar musik independen.
Klik tautan di bawah untuk mendengarkan rilisan EP dari SIP


