Penulis: Juli Imanuel
Angga Ferdian berkontribusi dalam artikel ini.
Per 10 Juni 2026, PT Pertamina resmi menaikan harga Pertamax yang awalnya sebesar Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter, kenaikannya hampir menyentuh 40% dari harga sebelumnya. Langkah ini diambil setelah Pertamina menahan kenaikannya untuk jenis Pertamax selama beberapa bulan terakhir, mengingat pada pertengahan April 2026, laman resmi PT Pertamina sudah memperbarui terlebih dahulu daftar harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax turbo yang sebelumnya Rp 13.100 per liter menjadi Rp 19.400 per liter dan BBM jenis Pertamina Dex yang sebelumnya Rp 14.200 per liter menjadi Rp 23.900 per liter.
Lonjakan harga BBM dipicu oleh pertikaian kedua belah negara antara blok Barat dan blok Timur yaitu Amerika Serikat (AS) dan Iran. Konflik tersebut membuat ketidakstabilan pada jalur pelayaran di selat Hormuz dan memberikan pengaruh pada banyak negara di Asia yang mengimpor minyak mentah dari iran, di mana Indonesia menjadi salah satunya yang terdampak karena adanya hambatan di jalur pelayaran yang dilalui kapal tanker Republik Indonesia melewati selat tersebut.
Kenaikannya menjadi perbincangan yang menonjolkan pembuluh darah pada dahi kiri diantara masyarakat pengguna BBM jenis Pertamax, terutama pada pengemudi ojek online yang harus memperhitungkan kembali pendapatan dan pengeluarannya untuk membeli BBM setelah kenaikan Pertamax tersebut. Pemuda lajang dengan dada tegar menggunakan jaket hijau bergaris hitam dengan nama Rizal, memberikan perbandingannya dengan uang bernilai Rp 37.000 itu dapat mengisi penuh tangki motor Vario 150nya, dari sisa dua batang pada indikator bensin di hari sebelumnya Ia bekerja.
Namun, malangnya Ia ketika kenaikan Pertamax sudah berlaku, uang Rp 37.000 itu kini tidak dapat memenuhi tanki motornya.
Sementara itu, Rizal sudah memperitungkannya jika beralih ke BBM jenis pertalite sebagai BBM subsidi yang diberikan pemerintah, raut mukanya menunjukan ketidakyakinan untuk menggunakan minyak subsidi tersebut. Ia mengatakan jika menggunakan jenis Pertalite akan menurunkan performa kendaraanya seperti perbedaan kompresi, membuatnya lebih cepat panas, dan membuat sistem aliran tanki menuju ruang bakar dan pembuangan yang didorong oleh piston menjadi kotor.
“Ya mau gak mau, kita meskipun berat harga dari Pertamax sendiri, lebih mementingkan kesehatan motor.” Ucap Rizal.

Rizal mengatakan juga bahwa pendapatan yang ia dapatkan tak cukup dan tak sebanding dengan pengeluarannya, “Tidak sebanding lebih banyak pengeluarannya daripada pendapatannya. Ke depannya jadi lebih boros juga. Dari biasanya pengeluaran sekian, sekarang lebih dari sekian. Misalkan dari 50 ribu, sekarang melambung tinggi menjadi 70 ribu.” Sambatnya.
Di sisi lain, Fahmi yang juga mengenakan luaran sama sebagai pengguna Pertalite kerabatnya Rizal menyayangi kebijakan ekonomi tersebut, Ia mengatakan bahwa Pertamax tidak dapat lagi menjadi opsi ketika antrean Pertalite sedang ramai. Lagi-lagi dengan kenaikan tersebut, kini antrean Pertalite kian mengalur berbaris seperti ular.
Akan tetapi, seseorang yang berinisial A dengan kulit coklat matang, sececah keriput dan uban di rambutnya, menjadikan hubungan kemitraan perusahaan ojek online tersebut sebagai pekerjaan utamanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga anak istrinya.
Sebelum Pertamax naik, Ia sama sekali tidak memikirkan jarak tempuh orderan dari titik jemput menuju titik antar karena Ia pengguna Pertamax dari awal, namun, saat ini Ia lebih memilih menggunakan Pertalite untuk meminimalisir pengeluaran BBM dari pendapatannya yang tidak sebanding akibat naiknya Pertamax “Akhirnya saya menggunakan Pertalite dengan resiko wallahualam mudah-mudahan motor saya sehat karena oktannya sudah tidak sesuai.” Ungkapnya.
Ketersediaannya demi menjaga dapur rumahnya berasap terlihat dari harapannya menunggu order-an, juga dengan setelannya yang mengenakan masker berjenis buff untuk menutupi leher hingga ke hidung dan sarung tangan untuk menutupi tangannya saat berkendara dari panasnya matahari saat berada di atas kepala.
Ia meyakini bahwa pemerintah tidak semerta-merta menaikan harga BBM tersebut, namun, harapannya pemerintah tidak mementingkan golongan atau individu tertentu. Selain itu, Ia pun bertanya-tanya mengapa pemerintah tidak meniadakan Pertalite dan mengalihkan subsidi yang diberikan pemerintah terhadap BBM jenis Pertalite ke Pertamax, karena Ia meyakini bahwa BBM jenis Pertamax kualitasnya diatas jenis Pertalite.
Hafidz, pemuda yang mengambil perguruan tinggi di Universitas Pakuan Bogor dan berdomisili di Kabupaten Bogor, Kecamatan Cibinong, pun ikut sangat menyayangkan peristiwa kenaikan BBM tersebut.
Ia menganalogikannya dengan jatah Rp 16.000 yang seharusnya mendapatkan satu liter Pertamax seharga Rp 12.000 dan kopi seduh seharga Rp 4.000 pupus ketika Pertamina menetapkan harga satu liter Pertamax menjadi Rp 16.250. Ia juga mengatakan bahwa pemerintah jangan pernah menganggap kenaikan Rp 1.000 atau Rp 2.000 menjadi sesuatu yang digampangkan, dan menggarisbawahi kurangnya komunikasi dari pemerintah mengenai penyesuaian harga yang seharusnya dapat langsung disebutkan saja sebagai kenaikan.
“Tapi ketika dibilang penyesuaian ya seharusnya bukan penyesuaian itu sebenarnya, naik gitu. Jadi, komunikasi aja sih dari pemerintah yang seharusnya bisa disosialisasikan kepada masyarakat.” Ungkapnya.
Editor: Shofi Fajriah



