Penulis: M. Fajar Ramadhan
Di tengah riuhnya arus utama, sudut Kota Bogor selalu punya cara sendiri untuk melahirkan talenta baru yang segar. Dari obrolan santai di sela-sela waktu senggang hingga pertemuan dalam berbagai perhelatan musik lokal, lahirlah Gluecollin, kuartet alternatif yang dipersatukan oleh kesamaan selera dan frekuensi bermusik.
Gluecollin digawangi oleh Jidan Ariz (vokal dan gitar), Septian Nuradi Rachman alias Doleng (gitar), Akmal Fauz (bass), serta Rama Fadhilah alias Aming (drum). Mereka mendefinisikan musiknya dalam lingkar alternatif dengan memadukan unsur indie rock, indie pop, hingga shoegaze ke dalam sebuah nama yang unik: Gluecollin.
Sebelum dikenal sebagai Gluecollin, band alternatif asal Bogor ini sempat menggunakan nama “Ourmoonia”. Namun, nama tersebut tak bertahan lama sebelum akhirnya berubah menjadi Gluecollin.
“Jadi nama itu cuma selingan aja. Setelah beberapa waktu buat diskusi lagi akhirnya kita patenkan nama jadi gluecollin,” ungkap Akmal.

Pencarian identitas itu bermuara pada sebuah memori masa kecil. Sang gitaris, Septian atau Doleng, teringat dengan merek lem yang akrab ditemui saat duduk di bangku sekolah dasar, Glucoll. Agar terdengar lebih manis dan enak disebut, mereka menambahkan akhiran “-in” di belakangnya. Tanpa makna filosofis yang muluk-muluk, nama Gluecollin resmi lahir dan merekatkan kebersamaan mereka hingga hari ini.
Potret Kecemasan dalam “In Between”
Sebagai penanda eksistensi mereka di ranah musik, Gluecollin resmi memperkenalkan diri ke publik lewat single perdana bertajuk In Between yang dirilis pada 15 Mei 2026 melalui label Tromagono Records. Ditulis sepenuhnya oleh Jidan, lagu ini memotret realitas emosional yang sangat dekat dengan transisi emosi anak muda zaman sekarang.
Lagu In Between mencoba berbicara tentang fase kehidupan seseorang yang terjebak di tengah jalan dalam pusaran kecemasan, overthinking, hingga hantaman quarter-life crisis.
“Fase hidup ketika seseorang lagi berada di tengah-tengah atau persimpangan perjalanan, bukan di masa lalu, tapi juga belum sampai ke tujuan yang diharapkan seseorang,” ujar Jidan menjelaskan latar belakang lagunya. “Mengingat apa yang sudah terjadi, menerima kenyataan, dan mencoba memahami arah hidupnya ke depan. Perasaannya campur aduk; ada sedih, ada ragu, tapi juga masih ada harapan.”
Meski liriknya lahir dari buah pikir Jidan, proses aransemen musiknya merupakan kerja kolektif yang matang. Seluruh proses rekaman lagu ini digarap di Ben’s & Co Record Studio dengan mempercayai Deni Wak Deno Noviandi sebagai operator yang menangani proses mixing dan mastering, sekaligus secara tidak langsung mengarahkan pembuatan musiknya. Untuk urusan visual, desain sampul single ini dikerjakan secara apik oleh Maha Fadillah Rachman.
Dirilis dalam format digital, In Between secara resmi disebarluaskan melalui berbagai kanal musik seperti Bandcamp, Apple Music, dan YouTube Music.
Sebagai langkah awal untuk menyapa para pendengar, Gluecollin juga berencana untuk segera merilis merchandise resmi mereka dalam waktu dekat.
Bagi para penikmat musik, single In Between barulah sebuah gerbang pembuka. Gluecollin mengonfirmasi bahwa mereka sedang bersiap menuntaskan mini album (EP) perdana yang direncanakan berisi empat hingga lima lagu dan ditargetkan rilis pada tahun ini. Salah satu materi yang patut dinantikan adalah “Lembar”, sebuah lagu yang menjadi materi paling awal yang mereka ciptakan bersama sejak 2024.
Pada akhirnya, In Between bukan sekadar lagu, melainkan sebuah ruang kontemplasi bagi siapa saja yang sedang berjuang mencari arah.
“Saat hidup terasa tidak pasti, tapi kita tetap berusaha bertahan dan menunggu datangnya titik terang, sekian,” Pungkas Jidan.
Editor: Shofi Fajriah



