Beranda / Kreatif / Konflik NewJeans dan ADOR dalam Sengketa Kontrak dan Kendali Kreatif

Konflik NewJeans dan ADOR dalam Sengketa Kontrak dan Kendali Kreatif

newjeans pada musik video resmi bertajuk bubble gum. (dari sisi kiri ke kanan) kang haerin, kim minji, lee hyein, danielle marsh, hanni pham. (foto youtube hybe labels)

Penulis: Angga Ferdian

Sengketa yang melibatkan grup K-pop NewJeans bermula dari konflik internal antara HYBE dan ADOR pada awal 2024. ADOR merupakan sublabel HYBE yang menaungi NewJeans sejak debut mereka pada 2022 di bawah kepemimpinan kreatif Min Hee-jin.

Pada April 2024, HYBE melakukan audit internal terhadap ADOR. Dalam pernyataan publiknya, HYBE menuduh CEO ADOR saat itu, Min Hee-jin, berupaya mengambil alih kendali manajemen dari perusahaan induk. Tuduhan tersebut dibantah oleh Min Hee-jin dalam konferensi pers. Ia menyatakan bahwa konflik tersebut berkaitan dengan perbedaan pandangan mengenai manajemen dan arah bisnis.

Pada pertengahan 2024, HYBE melakukan perubahan struktur manajemen ADOR, termasuk pencopotan Min Hee-jin dari jabatan CEO. Perubahan ini menjadi titik penting dalam dinamika hubungan antara artis, agensi, dan perusahaan induk. Menurut laporan Kompas, rangkaian peristiwa tersebut menjadi awal ketegangan yang kemudian berdampak pada hubungan kerja antara NewJeans dan ADOR. Setelah perubahan kepemimpinan itu, NewJeans mulai menyampaikan kekhawatiran terkait kondisi kerja dan perubahan komunikasi internal di dalam agensi.

Puncak konflik terjadi pada September 2024 ketika kelima anggota NewJeans, yakni Minji, Hanni, Danielle, Haerin, dan Hyein, melakukan siaran langsung melalui kanal YouTube independen. Dalam siaran tersebut, mereka menuntut agar Min Hee-jin dikembalikan sebagai CEO ADOR serta menyampaikan keinginan untuk kembali bekerja dalam kondisi seperti sebelumnya.

Kesaksian Hanni dan Isu Kemanusiaan di Industri

Pada Oktober 2024, salah satu anggota NewJeans, Hanni, memberikan kesaksian di Majelis Nasional Korea Selatan. Dalam kesaksiannya, ia menjelaskan pengalaman terkait interaksi di lingkungan kerja yang menurutnya menunjukkan adanya persoalan komunikasi dan perlakuan antarstaf di lingkungan HYBE. Pernyataan tersebut menjadi perhatian publik terkait hubungan kerja di industri hiburan Korea Selatan, meskipun tidak menjadi dasar langsung dalam putusan pengadilan mengenai kontrak.

Dengan berlinang air mata, Hanni mengungkapkan pengalamannya di tempat kerja. Menurut laporan Korea JoongAng Daily, Hanni merasa terdapat suasana di perusahaan yang sulit dijelaskan dan diceritakan kepada siapa pun. Ia mengaku sering menyapa para atasan dan petinggi HYBE, tetapi tidak pernah memperoleh respons. Hanni juga merasa kerap diabaikan sehingga meyakini bahwa HYBE sebagai perusahaan tidak menyukai NewJeans beserta para anggotanya.

Dari seluruh tekanan, perundungan, dan pelecehan yang dialaminya, Hanni menyadari bahwa setiap perusahaan memiliki aturan masing-masing. Namun, ia mengingatkan bahwa sesama manusia harus memiliki kepedulian dan empati satu sama lain.

Kita semua manusia. Saya pikir banyak orang melupakan itu. Saya mengerti bahwa kontrak untuk artis dan trainee mungkin berbeda, tetapi kita semua manusia, ungkap Hanni dalam kesaksiannya menurut Korea JoongAng Daily.

Pemutusan Kontrak, Gugatan Hukum, dan Sengketa Formal

Pada November 2024, NewJeans mengumumkan bahwa mereka menganggap kontrak eksklusif dengan ADOR telah berakhir. Dalam pernyataan mereka, grup tersebut menyampaikan bahwa perubahan manajemen dan kondisi kerja membuat mereka tidak lagi memiliki dasar kepercayaan terhadap agensi.

ADOR membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa kontrak eksklusif yang ditandatangani para anggota masih berlaku secara hukum hingga 2029. ADOR kemudian mengajukan gugatan ke pengadilan untuk menegaskan keabsahan kontrak tersebut.

Sengketa ini kemudian memasuki ranah hukum formal di Korea Selatan. Pada Maret 2025, Pengadilan Distrik Pusat Seoul mengeluarkan putusan sela yang melarang NewJeans melakukan aktivitas independen tanpa persetujuan ADOR. Pengadilan juga menegaskan bahwa kontrak eksklusif antara kedua pihak masih berlaku. Putusan tersebut memperkuat posisi ADOR sebagai pihak yang memiliki hak manajemen atas grup selama proses hukum berlangsung.

Setelah putusan tersebut, NewJeans sempat menggunakan identitas alternatif dalam beberapa aktivitas independen. Namun, langkah tersebut kembali dibatasi setelah pengadilan menegaskan bahwa seluruh aktivitas publik grup harus berada di bawah koordinasi ADOR. Pada tahap ini, ADOR menyatakan bahwa penggunaan nama maupun aktivitas di luar struktur perusahaan tidak dapat dilakukan tanpa izin resmi karena hubungan kontraktual masih sah. Menurut laporan Tempo, pengadilan juga menegaskan bahwa ADOR tetap menjadi agensi resmi yang memiliki hak atas pengelolaan grup.

Pada pertengahan 2025, proses hukum berlanjut dengan pemeriksaan gugatan utama yang diajukan oleh NewJeans. Dalam gugatan tersebut, grup meminta agar kontrak eksklusif dinyatakan tidak berlaku. Namun, pengadilan menolak gugatan tersebut. Dalam putusannya, pengadilan menyatakan bahwa perubahan manajemen internal perusahaan tidak secara otomatis membatalkan kontrak yang telah disepakati. ADOR kembali ditegaskan sebagai pihak yang memiliki hak legal untuk mengelola aktivitas grup selama kontrak eksklusif masih berlaku.

Dalam perkembangan lain, NewJeans dilaporkan menolak opsi penyelesaian damai yang diajukan dalam salah satu sidang lanjutan pada 2025. Menurut laporan Tempo, penolakan tersebut didasarkan pada pandangan bahwa hubungan kerja dengan ADOR telah kehilangan dasar kepercayaan sehingga tidak dapat dilanjutkan dalam bentuk semula. Di sisi lain, ADOR tetap mempertahankan posisinya bahwa kontrak eksklusif masih berlaku dan mengikat secara hukum.

Pada akhir 2025, Pengadilan Korea Selatan kembali menegaskan bahwa kontrak eksklusif antara NewJeans dan ADOR tetap berlaku hingga 2029. Putusan tersebut menjadi dasar hukum utama dalam sengketa yang telah berlangsung hampir dua tahun. Setelah putusan itu, ADOR menyatakan bahwa mereka tetap menjadi agensi resmi yang menaungi NewJeans dan bahwa seluruh aktivitas grup harus kembali berada di bawah manajemen perusahaan.

Menurut laporan Kompas, setelah putusan tersebut para anggota mulai kembali berada di bawah struktur ADOR, meskipun proses penyesuaian internal masih berlangsung. Pada periode ini, diskusi publik mengenai kasus NewJeans meluas ke isu yang lebih besar dalam industri K-pop, termasuk hubungan kerja antara artis dan agensi, kontrol kreatif, serta batasan kontrak eksklusif. Kasus ini menjadi salah satu sengketa kontrak artis paling menonjol di industri hiburan Korea Selatan dalam beberapa tahun terakhir karena melibatkan grup yang memiliki pengaruh global dalam waktu relatif singkat.

Status Danielle dan Posisi Terkini Grup

danielle marsh. foto instagram @newjeans official
Danielle Marsh. Foto: Instagram @newjeans_official

Memasuki akhir 2025 hingga 2026, dinamika hukum dan manajemen NewJeans memasuki fase lanjutan dengan sejumlah perkembangan baru.

Pada Desember 2025, ADOR mengumumkan pemutusan kontrak eksklusif dengan salah satu anggotanya, Danielle. Perusahaan menyebut keputusan tersebut diambil setelah evaluasi internal terkait keberlanjutan kerja sama. Menurut laporan Times of India, ADOR menyatakan bahwa hubungan kerja tersebut tidak lagi memungkinkan untuk dilanjutkan dalam format kontrak sebelumnya.

Pada 20 Desember 2025, menurut Allkpop, agensi manajemen NewJeans mengumumkan bahwa mereka telah berdiskusi dengan Minji, Hanni, Danielle, serta keluarga masing-masing mengenai masa depan mereka di perusahaan. Setelah melalui berbagai pertimbangan, Hanni mengonfirmasi akan tetap bergabung dengan grup dan perusahaan tersebut. Namun, keputusan berbeda diambil terhadap Danielle.

“Akan sulit bagi Danielle untuk terus bekerja dengan kami. Kami telah memberitahukan pemutusan kontrak eksklusifnya.”

Mereka juga mengonfirmasi bahwa meskipun belum seluruh persoalan terselesaikan, komunikasi dengan Minji masih terus berlangsung.

Keputusan tersebut kemudian diikuti proses hukum lanjutan yang mencakup gugatan terkait kompensasi dan status kontrak. Dalam perkembangan pada 2026, terdapat laporan bahwa nilai gugatan mengalami penyesuaian setelah evaluasi ulang oleh pihak hukum ADOR serta perubahan tim kuasa hukum dalam proses persidangan. Menurut Korea JoongAng Daily pada Juni 2026, ADOR yang sebelumnya meminta ganti rugi sebesar 43,1 miliar won kepada Danielle dan Min Hee-jin kemudian mengurangi nilai gugatannya menjadi 33,1 miliar won. Selain itu, media Korea juga melaporkan adanya perubahan dalam tim hukum yang menangani perkara tersebut pada 2026.

Dalam periode yang sama, status NewJeans secara keseluruhan berada dalam tahap restrukturisasi setelah putusan pengadilan 2025 yang menegaskan keabsahan kontrak eksklusif dengan ADOR. Berdasarkan laporan Reuters, para anggota sebelumnya menyatakan niat untuk kembali berada di bawah ADOR sebagai agensi resmi sesuai dengan ketentuan kontrak yang berlaku. Namun, perkembangan lanjutan pada 2026 menunjukkan bahwa implementasi keputusan tersebut masih berlangsung secara bertahap seiring proses hukum yang belum sepenuhnya selesai dalam beberapa aspek individual.

Selain aspek hukum, diskusi publik mengenai hubungan kerja antara artis dan agensi di industri K-pop juga terus berlanjut. Kasus ini kerap dijadikan referensi dalam pembahasan mengenai struktur kontrak eksklusif, hak kekayaan intelektual, serta batas kewenangan perusahaan dalam mengelola artis.

Struktur Hukum dan Dinamika Industri K-Pop

Kasus NewJeans dan ADOR menjadi salah satu contoh paling kompleks dalam dinamika industri K-pop modern. Hubungan antara artis dan agensi tidak hanya ditentukan oleh aspek kreatif, tetapi juga oleh struktur kontrak yang mengikat secara hukum.

Di satu sisi, ADOR dan HYBE menegaskan bahwa seluruh tindakan manajemen berada dalam kerangka kontrak eksklusif yang masih berlaku dan telah dinyatakan sah oleh pengadilan. Di sisi lain, NewJeans menyampaikan bahwa perubahan kondisi kerja dan struktur manajemen menjadi faktor utama yang melatarbelakangi sengketa sejak 2024.

Putusan pengadilan yang menegaskan keberlakuan kontrak hingga 2029 menjadi titik penting dalam proses hukum tersebut. Meski demikian, berbagai dinamika internal dan perkembangan hukum yang melibatkan para anggota masih terus berlangsung hingga kini.

Dalam ruang publik, kasus ini berkembang menjadi diskusi yang lebih luas mengenai hubungan kerja di industri hiburan Korea Selatan, termasuk isu kontrol kreatif, hak artis, serta posisi agensi dalam mengelola karya dan identitas grup.

Di tengah seluruh proses hukum dan perubahan yang terjadi, Danielle pernah mengucapkan sebuah kalimat pada Korea Grand Music Awards 2024 (KGMA 2024):

NewJeans never die,

Kalimat tersebut kemudian banyak digunakan oleh para penggemar sebagai bentuk dukungan terhadap NewJeans di tengah sengketa hukum yang mereka hadapi. Bagi sebagian penggemar, ungkapan tersebut menjadi simbol harapan dan solidaritas selama grup tersebut menjalani berbagai dinamika hukum dan perubahan manajemen.

Editor: Shofi Fajriah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *