Penulis: Dean Alfrid
Riuh hangat energi Gen Z di sudut kampus, membuat peluh bercucuran hingga menimbulkan beragam aroma keringat, dan tak lupa dengan ritual ke toilet akibat perasaan yang sudah berdebar-debar saat tirai masih belum dibuka. Pandu Fathoni atau lebih dikenal dengan Pandu Fuzztoni, telah puluhan tahun melintasi berbagai macam panggung, mulai Bersama The Porno pada tahun 2004, Morfem, Farrt, hingga Zuff. Dan tak pernah sedikit pun ia merasa cemas sebelum memetik gitarnya. Jika dahulu, ia melewati malam hari dengan alkohol, sekarang ia melewati malam dengan berdiri di atas panggung dan pikiran yang sepenuhnya jernih. Pada Maret 2026 lalu, Pandu memutuskan sober dan berhenti merokok, ia membuktikan bahwa menjaga api Do It Yourself (DIY) di usia matang bukanlah tentang fisik yang ugal-ugalan, melainkan tentang bagaimana untuk tetap setia pada bunyi low-end berbulu yang berkecamuk di dalam kepalanya.
Sosok yang dikenal publik melalui identitas sonic-nya—fuzz, dengan efek distorsi berbulu yang menjadi ciri khas Morfem sejak label “fuzz rocker” yang melekat. Pandu menyimpan filosofi sederhana tentang membuat band baru: dengan mencari drummer yang hebat terlebih dahulu. Prinsip ini ia kutip dari bassis Nirvana, Chris Novoselic “jika fondasi ritme sudah kuat, sisanya tinggal ikut jadi keren.” Prinsip tersebut terus ia tanamkan kepada band-band yang ia produseri.
Di sisi luar panggung dan studio, terdapat sosok Pandu yang lain—Pandu yang digambarkan oleh anaknya sendiri, yang hanya tidur dan bermain PlayStation (PS) di rumah. Memainkan gim Ultimate Team, hingga bermain ulang Resident Evil 4 Remake dengan sang anak, dan terus berlanjut memainkan gim lain. Pandu juga mengoleksi konsol lawas seperti Sega Genesis lengkap dengan kaset-kasetnya. Tak hanya bermain gim, Pandu juga suka berbincang tentang topik Michael Jackson, menyanyikan ulang lagu Weezer, hingga les drum dadakan untuk anaknya sendiri.

Gimana menurut lo tadi tentang energi anak kampus, terutama Gen Z di kampus ini?
Yang pasti ini menjadi pengalaman pertama gue berada di sini, ya maksudnya seru banget, bisa se-seru ini, se-hangat ini suasananya. Gue seneng sih bisa berada disini.
Apa perbedaan yang mencolok dari generasi Z sama generasi lo?
Dengan wajah ramah dan dua sisi bibir yang terangkat ia menjawab: zaman dulu, kalo di kampus gue biasanya mau broadcast gitu tuh harus magang ke tempat lain gitu. Seperti radio, jadi penyiar, lalu kamera, dan segala macemnya harus ikut orang luar. Kalo sekarang mungkin kampus sudah menyiapkan fasilitas-fasilitasnya dan itu sih menurut gue yang menjadi perbedaan paling signifikan.
Waktu itu lo kuliah di mana?
Gue kuliah di Darma Persada, di daerah Duren Sawit, gue ngambil jurusan sastra Inggris, dan gue enggak lulus kuliah.
Yang kita liat, lo orangnya punk rock, DIY gitu. Gimana cara lo ngejaga semangat DIY itu di saat umur sudah semakin matang?
Gue secara pribadi enggak pernah ngerasa diri gue berubah, sejak pertama Morfem ada hingga sekarang, gue enggak pernah ngerasa berubah. Cuman cara pandangnya karena sekarang udah berkeluarga, mungkin, in a punk way tapi tetep mikirin how to survive aja sekarang. Kalo gue sih sekarang seperti itu. Tapi gue enggak ngerasa harus mengubah cara pandang musik, band, dan gue sendirinya.
Band lo sekarang ada tiga, semua rekamannya lo yang produserin?
Iya, ada tiga. Dan secara ga langsung iya, cuman yang lain pasti ada kontribusi juga disitu. Tapi kalo dari teknis rekaman dan segala macem, kita saling membantu. Jadi kayak nanti rekaman Farrt, di studionya laval, pasti tetep ada yang ngegawangin juga tentang teknisnya.
Tentang band baru, kriteria band kayak gimana yang bakal menarik perhatian lo?
Yang pertama, gue mengutip kalimat dari basis Nirvana, Chris Novoselic, “If you have a kicking drummer, you must have a kicking band.” Jadi mulai dari drummernya dulu yang harus bisa metronom dan segala macem, nanti yang lainnya pasti akan keren. Soalnya, kalo gue saat bikin lagu, yang paling pertama di take bagian drum. Jadi kalo fondasinya udah keren, you have a kicking drummer, you have a kicking band. Jadi kalo lo mau bikin band, paling pertama cari drummer yang jago dulu. Setelah itu basis, kalo udah cocok, terserah gitaris mau ngapain aja bebas.
Kutipan itu yang lo bawa di Pelatar, sama Elmer sama Unbound?
Iya mungkin, itu soalnya yang gue tanemin, banyak banget band-band baru gitu. Gue enggak bilang jelek, tapi saat lagi ketemu metronom, ternyata agak menyulitkan engineer. Jadi temen band yang lain jadi ikut turun juga, jadi jangan sampe kayak gitu.
Lo udah puluhan tahun berkecimpung di dunia musik, apakah ada rasa jenuh lo sama musik? Terutama pada gitar?
Nah ini kemarin lucu nih, gue lagi garap albumnya Zuff, lagi mixing terus di depan Personal Computer (PC). Dan gue menyadari, ternyata gitar jadi hal yang membantu refreshing banget. Meski cuma genjreng-genjreng di rumah dan kamar, ternyata jadi great escape untuk gue.
Kadang jenuh, kadang enggak, dan kadang bikin suasana hati jadi fresh. Aneh memang gitar itu. Dari dulu gue sering jamming gitu sama apa yang mau gue dengerin. Misalnya Weezer atau Metallica, gue sering jamming itu dan gue seneng.
Lo ada keinginan untuk bikin projek di luar gitar enggak? Misalnya main drum?
Waktu itu pernah. Sama Barefoot dulu, main drum. Gue di Barefoot, main drum. Saat itu Barefoot drummernya keluar, terus gue jadi drummer. Terus ada drummer lagi, terus keluar lagi, terus gue jadi drummer lagi. Kayak gitu-gitulah.
Lo sama Morfem dari 2009 kan?
Iya, kurang lebih udah 17 tahun. Terus dari gue sama The Porno pada tahun 2004.
Nah setelah puluhan tahun lo naik turun panggung, yang lo paling kangenin apa?
Ya itu tadi, rasa adrenalin sebelum naik panggung yang enggak pernah ilang dan rasa deg-degannya yang masih gue heran. Sebelum naik panggung itu seperti ada perasaan enggak jelas gitu. Mulai dari pipis dulu, stretching di pinggir panggung gitu. Dan perasaan itu ada di manapun bahkan di panggung kecil dan event showcase sekalipun.
Tapi kalau naik panggung, lebih enak sober atau pakai substance sih?
Tiap band pasti beda treatment-nya. Tapi sekarang anak-anak udah sober semua karena lagi nyoba hidup sehat. Agak klise sih, cuman emang lagi belajar berhenti ngerokok sama minum.
Sudah berapa lama berhenti merokok?
Udah dari 31 Maret 2026 kalo enggak salah, saat gue mengunggah reels di Instagram, gue bilang berhenti merokok. Walaupun ada perasaan aneh saat awal berhenti merokok.
Orang-orang kan kenal identitas lo dengan fuzz. Kalau ditarik ke belakang sampai cara lo main musik sekarang, buat lo fuzz itu sebenarnya apa sih?
Buat gue, fuzz itu akhirnya jadi identitas. Sampai-sampai temen band gue di Morfem, Jimi, pernah bilang, “Lo mau pakai efek apaan aja, bunyinya bakal tetap sama di tangan lo.” Bahkan Petir yang pernah menjadi gitaris tambahan untuk Morfem juga pernah bilang begitu. Ya karena di otak gue, cetakan bunyinya memang udah kayak begitu.
Kalau dirunut ke belakang, dulu itu ada faktor keterbatasan. Zaman gue dulu, efek yang dijual di toko kebanyakan cuma distorsi standar kayak Boss Distortion. Nyari Big Muff atau jenis fuzz lainnya itu susah banget. Karena keterbatasan itu, kita akhirnya mengglorifikasi kalau Morfem adalah fuzz rocker. Kayak ingin ngasih tahu, “Ya, kita nih yang pertama kali mengadaptasi sound kayak gini.”
Lama-kelamaan sound ini menyebar, fuzz ada di mana-mana, which is good buat gue. Meskipun di Farrt—band gua bareng Eno, Ucup, dan Bobby—nggak terlalu fuzz banget, ternyata elemen itu tetap ada. Gua tetap pakai fuzz karena kalau cuma distorsi standar, rasanya nggak cukup. Harus ada karakter low-end yang “berbulu”, ada suara crack-crack atau edge of break up-nya gitu. Jadi ujung-ujungnya, fuzz itu ya identitas gua.
Lo kan suka efek fuzz yang berat kayak tadi. Ada rencana bikin band stoner nggak sih? Kayak Electric Wizard atau Sleep gitu?
Kita bicarakan nanti ya. Kayaknya bakal ada sih, soalnya udah ada yang ngajakin. Konsepnya lintas genre gitu—yang satu biasa main genre apa, yang satu genre apa, tapi pas kumpul bikinnya stoner rock. Cuma buat sekarang belum bisa gua omongin dulu sih, tunggu aja.
Atau nggak lo gantiin Matt Pike. Kan dia cabut tuh dari Sleep?
Iya juga ya. Gue tuh sebenarnya kalau lagi ngelihat band Hard Core (HC) juga suka pengin punya band HC, kayaknya asik aja. Kayak kemarin pas Speed atau Comeback Kid main ke Indonesia. Dan menurut gue, yang jenius sekarang ya siapa lagi kalau bukan Turnstile, ya? Meskipun ada yang bilang overrated, cuma menurut gue mereka jenius sih. Band lokal kayak Defy dari Palu juga bagus banget.
Tapi gue pribadi emang nggak ada basic main di situ sih, gue cuma menikmati aja. Menikmati hardcore, beatdown, yang kayak begitu-begitu. Termasuk Deftones, gue juga suka—meski Deftones mah masuknya udah nu metal. Tapi enggak terlalu nu metal sih buat gue Deftones tuh. Malah sedikit dekat ke Stoner menurut gue. Gue suka Deftones tuh dari genre itu.
Tapi kalau lo pribadi, sebenarnya kiblat musiknya lebih suka ke mana, Mas?
Sebenarnya kalau dibilang cinta pertama gue tuh Nirvana, cinta kedua gue Joy Division, dan cinta ketiga gue Weezer. Muter-muter di situ aja terus beserta sub-subgenrenya. Gue nggak pernah bisa ngelupain tiga band itu, karena semuanya punya andil besar dan sangat berjasa dalam karier musik gua sampai sekarang. Cuma kalau untuk konsumsi harian, gue tetap mendengarkan apa pun yang menurut gue menyenangkan sih.
Orang-orang kan tahunya lo anak band dan produser musik. Nah, di luar urusan musik, ada nggak sih sisi domestik atau sisi “bapak-bapak” seorang Pandu?
Ada bangetlah! Yang pasti setiap hari gue ngurus anak, sama main PS bareng. Anak gue mainin career mode, gue main ultimate team. Di situlah momen gue berusaha untuk tetap bisa ngobrol sama dia. Gue juga ngelesin anak gue drum, macam-macamlah.
Gue baru-baru ini bahkan beli AP King—itu lho, aksesoris buat jempol. Gara-gara anak gue pakai dan rasanya enak, gue beli juga buat main Fortnite. Kalau soal gim gue emang agak parah sih. Sekarang gue lagi mengulang Resident Evil 4 Remake, gim kedua, dan ketiganya juga gue ulang lagi sebelum mainin A Plague Tale: Requiem. Makanya kalau explore Instagram gue, isinya kalau nggak gim yang gue suka, ya paling musik atau rekaman gitar. Gue nggak tahu deh itu masuknya sisi bapak-bapak atau sisi anak kecil.
Di rumah, gue juga ngoleksi banyak konsol lama kayak Sega Genesis lengkap sama kaset-kasetnya. Lewat gim dan musik inilah gue sama anak gue akrab banget. Kemarin kami habis nonton dokumenter Michael Jackson, langsung deh dengerin lagu-lagunya terus. Begitu tahu ada Weezer yang meng-cover Michael Jackson, obrolannya balik lagi ke Weezer.
Ya rutinitas gue seputar itu aja sih kalau sama anak, selain nganter-jemput sekolah atau ngurusin mandi. Pernah ada cerita lucu pas dia masih TK, ditanyain sama gurunya, “Bapakmu kerjanya apa?” Anak gue jawab, “Tidur sama main PS.” Karena emang itu yang dia lihat sehari-hari di rumah. Gue kan cuma weekend doang pergi kerja, sisanya kalau nggak di rumah ya di studio pribadi yang kebetulan masih di rumah juga. Jadi di mata dia gue cuma tidur sama main gim doang, tapi that’s okay.
Jawab spontan,
Pertama, gitar?
John Squire, The Stone Roses.
Fuzz?
Big Muff, Elektro Harmonix.
Playstation?
The Mighty Hideo Kojima.
Manchester United?
Sir Alex Ferguson.
Terakhir, The Adams?
Masa-masa.
Oke, terima kasih.
Editor: Angga Ferdian











